-
Sebuah doa.
Tuesday
"Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika..
Jika ia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk..
Jika ia memang takdir bagiku, pantaskanlah ia untukku, dan pantaskanlah diriku untuknya..
Ya Rabb.. aku memilihnya karena sebuah keyakinan..
Dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya..
Dengan seluruh luka dan bahagia yang menyertai hidupnya..
Aku selalu berdoa kepadaMu untuk memintanya dengan seluruh apa yang telah Engkau berikan untuknya..
Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinika..
Aku yakin bahwa tidak ada ketetapanMu yang salah.
Aamiin ya rabbal ‘alamin... "(Repost from Berdakwah).Posted by Ireneu Lestari at 3/31/2015 01:55:00 AM | Labels: Diary | 2 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bahagia Sederhana-ku.
Sunday
Ini hidupmu, yang telah Tuhan anugerahkan padamu Nak!Kala cinta Tuhan membelai lembut seluruh bagian hati, keyakinan tumbuh luas bagai sungai tak bertepi. Pernahkah kau merasa takkan bisa, namun bagian hatimu yang lain berkata ‘mau bisa atau tidak, hal paling penting adalah usahanya’..? Tak peduli apakah sulit, rumit, atau membuat perut rasanya seperti melilit... biarkan saja. Yang penting kita mencoba dan berusaha. Hanya itu hal terbaik yang pernah ada.Keraguan membabi buta di awal cerita. Aku ragu pada diriku di waktu itu. Namun kasih dan sayangNya membuat perjalanan berbeda, terasa semakin dikuatkan. Selalu seperti itu. Betapa kebersyukuran yang indah atas segala prosesnya.
Dan di akhir cerita, aku pun resmi pada Department Sosial FKUnisba. Bahagia sekali rasanya. Semoga amanah, Ren.Hal-hal kecil mahasiswa FK yang selalu patut disyukuri. Cliche but true... bahagia itu sederhana dalam genggamNya.
Ireneu Lestari, 27 Januari 2015.Posted by Ireneu Lestari at 3/01/2015 08:26:00 PM | Labels: corak, My Another Happiness | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Will You?
Monday
Langit hitam tak selalu berarti kelam. Layaknya keadaan di siang gelap nan jauh dari malam.Ini pertama kalinya aku pulang, dan memikirkanmu dengan senang. Tak ada lagi terkaan buram mengekang.Bagai semburat jingga di pagi hari yang meninggalkan gelapnya langit.. waktu menghilangkan pecahan ragu sedikit demi sedikit.Daun-daun hijau yang basah, kaca bis yang seakan berembun, macet kota besar beserta suara klaksonnya yang memekakkan telinga, seakan membentuk guratan lukisan baru dengan denting irama sendu.Ternyata sudah tak abu-abu, wahai kau sang penyuka hidung pesekku...Ternyata tak salah menerka, wahai kau pemilik pesona yang tak bisa biasa-biasa...Semoga tak sesingkat dulu.Semoga kau hendak menjadikanku candu... hingga dapat selalu menunggu.Will you?
-Ireneu Lestari, December 24th 2013. Reblog.Doc..Posted by Ireneu Lestari at 10/27/2014 08:50:00 PM | Labels: Catatan Sendu, Diary | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
“Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis.Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang Maha Menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Semua kehati-hatian, menghindari hal-hal yang dibenci, akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Semoga.”-Tere Liye
Posted by Ireneu Lestari at 10/20/2014 05:04:00 PM | Labels: Catatan Sendu | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Namamu
Tuesday
Diantara pilihan yang menawarkan beragam bentuk kelebihan, yang kulakukan hanya terdiam. Tak dapat walau hanya untuk membandingkan.Walaupun begitu, namamu terbukti mampu berdiri kokoh di satu sudut terang. Rangkaian lampau membebat hatiku riang.Ketika cinta itu mulai terasa seperti akan hilang, sibukku untuk menarik perhatianmu merajai waktu-waktu.Ketika aura bahagia itu terlontar lantang, darimu untuk yang selain aku.. Cemburu bukan lagi jadi kenangan, terasa nyata tak terelakkan.Inginku kau seperti dulu, disana tetap menunggu.Namun apalah arti segala inginku yang pada akhirnya hanya akan membuat luka itu kembali terbuka? Lukamu, yang bahkan tak aku tahu apakah masih disitu atau telah direnggut waktu.
Maafkan aku..
Dan..
Tolong tunggu...Posted by Ireneu Lestari at 9/30/2014 09:10:00 PM | Labels: Catatan Sendu, Diary | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Reminds Me of You
Thursday
(Aiza Seguerra - I'll Be There For You)
When you wake up each morning
And you feel like calling
I'll be there for you
When the road seems uncertain
And you can't stop the hurtin'
I'll be there for you
When there's no one beside you
I'll be there to guide you
Catch you each time you fall
When the stars won't shine anymore
I'll be there...
When the world's unkind
And your dreams, they need more time
I'll be there for you
If the rules they keep breaking
And the future is fading
I'll be there... For you
The rainbow will end
In the palm of your hand
Don't ever let it go
When the stars won't shine anymore
I'll be there...
Who knows where we'll go
What will tomorrow bring
But we have each other, just hold on tight
We can take to the skies and fly...
I'll be there for you...
I'll be there for you...
The rainbow will end
In the palm of your hand
Don't ever let it go
When the stars won't shine anymore
I'll be there...
I'll be there.“Jangan ada pembanding gitu segala. Kamu yang sekarang….udah cukup mewakilkan harapan saya. Jadi kalau kamu gak ada .. harapan saya ? Nothing. Jangan ngejauh…Ketakutan kamu itu, keyakinan buat saya. Karena mungkin saya tau, ketakutan kamu yang berarti saya lebih yakin untuk makin gak ngejauh :)” – Kamu, 2010.***“Dan sama sekali tidak diduga, kamu datang. Benar kan, memang seperti itulah takdir. Tidak mengenal waktu, tempat, keadaan. Tidak mengenal yang kaya ataupun miskin, yang pintar ataupun bodoh. Ketentuan itu pasti datang. Apa yang telah tertulis di suratan itu pasti terjadi.Diperkenalkannya kita oleh langit, Nar.Kamu, berhasil menyuntikan banyak semangat dalam hidup saya. Keyakinan. Percaya pada diri. Kerja keras. Kekuatan. Dan penyerahan segala sesuatu kepada Tuhan. Sadarkah kamu.. kalau kamu adalah motivator terbesar saya sejak saat itu. Kamu visioner terhebat. Kamu membuat saya kembali percaya. Saya menjadi kembali kuat. Bahkan saya tidak sepenuhnya mampu menggambarkan betapa kamu, dan janji kita itu sangatlah berharga.”- Saya, 03 Oktober 2010.Thankyou for being You in my life.Empat tahun yang Indah. Terimakasih untuk permen-permen manis yang kamu berikan di sepanjang masa SMAku, hingga saat itu. Terimakasih untuk coklat-coklat pahit yang tidak sengaja kita pilih, yang tanpa dalih, menyisakan rasa sedih.Terimakasih telah berpisah dengan baik, dan mengatakan bila sihir kita terlalu kuat untuk menjadi hanya dimiliki berdua. Terimakasih telah menjadi kekuatan untukku dalam menjadi hanya sendiri hingga kelak waktu yang tepat tiba.Di atas, adalah lagu kesukaanmu :)***“Doakan, semoga hijabku makin jenjang.”
“Selalu. Dan akan teramat beruntung untuk ia yang mendapatkan kamu.”
***Posted by Ireneu Lestari at 7/24/2014 09:30:00 AM | Labels: N | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Siang ini langit terlihat biru, dengan awan putih bentuk tak teratur sedikit demi sedikit membentuk satu pola, dan kemudian berubah lagi membentuk yang lain. Angin membawanya hendak berjalan, menaungi bagian bumi satu, dan berpindah ke bagian bumi yang lain.
Masih terdengar suara kicauan burung, walau kini suara kendaraan, las besi dan suara-suara dari proses pembangunan lebih mendominasi. Terasa belaian lembut angin siang Bandung, cukup sejuk tak terlalu gersang. Beruntunglah aku yang kini tinggal disini, kota impian dengan pendidikan impian.
Semuanya terasa begitu nyata di masa sekarang. Aku sudah berada dijalanku. Jalanan tak mudah menuju cita, jalanan yang didamba sejak masa SMA.
Kini semua tinggal dijalani, dibuat baik karena segalanya talah terhampar jelas. Berbeda dengan dahulu, aku yang senang berlarian di ufuk khayal, melompat dari satu mimpi ke mimpi lain. Menjalani mimpi itu satu persatu.
Lagi-lagi, semua ini tak dapat mencegahku untuk kembali ke masa lampau. Seperti bersihir, mengenang yang selalu membuat senang.
Masih dengan lantai merah tua, yang tentu menjadi saksi bisu semua kenangan murid-murid SMA sekolah kami, termasuk aku. Kelas-kelas yang bernamakan tempat-tempat hebat di peradaban Arab. Loker-loker berbentuk rendah yang dapat dipanjat, pada akhirnya menjadi tempat duduk kami ketika sedang beristirahat atau sekadar nongkrong saat kelas kosong. Moving class dan ajang "sempet-sempetin ke kantin"-nya, sepatu berwarna dengan tali sepatu kanan-kiri beda. Dan di siang hari yang rerata lebih akrab dengan sandal karet berwarna pula. Bahkan di akhir, trend membuat mereka berukirkan nama pemiliknya.
Alas makan siang berwarna-warni dan berbentuk bulat, dengan menu yang membuat hati banyak berharap ketika kaki melangkah menuju ruangan makan. Semoga tidak harus ganti telur -untuk yang alergi ikan, udang. Semoga tidak ada kangkung -dikala kelas siang adalah mata pelajaran penting dan tak boleh mengantuk. Semoga menunya enak, semoga ini, semoga itu -berbeda disetiap benak. Dan antrian air minum yang..... Memberi kesempatan untuk menengok ke hamparan meja, menyapu setiap kepala di setiap barisnya. Baris 1, baris 2, 3.. 4.. 5.. Dan bibirmu terkulum ketika kau temukan dia sudah ancang-ancang dengan piring bulatnya, bergabung dengan teman sepermainannya.
Lebih beruntung lagi, ketika ia menyadari kau melihatnya, kemudian kalian saling tersenyum -pipimu merah.
English day, yang membuat bibi kantin juga akhirnya mengatakan "one thousand, two thousand". Wah, pencerdasan yang meluas ya..
Lalu asmaul husna yang -walaupun dilantunkan setiap hari selama 3 tahun- tetap selalu terbalik jika dilantunkan sendiri-sendiri, terpotong di bagian tengah dan tiba-tiba sudah sampai di huruf-huruf akhir. Membingungkan. Namun lancar tiada celah ketika dilantunkan bersama-sama.
Kehidupan yang akan berbeda dengan kalian yang bersekolah negeri, tentu saja. Aku, merasa harus untuk mengucap banyak syukur atas pembentukan jati diri yang begitu hebat yang sekolahku beri.
Tiada drama cinta ala 'SMA' atau.. ala sinetron yang sungguh sangat melebih-lebihkan. Kalaupun ada, hanya beberapa. Yang jelas, dominasinya ya tidak.
Kisah cinta mengalir indah dan sederhana, menjadikan dua insan muda yang jatuh cinta saling bercuri pandang, tersenyum malu di pintu gerbang ketika sekolah telah selesai. Atau di acara sekolah yang terpaksa diikuti dan ternyata 'berbonus' untuk para secret admirer, atau para pasangan setengah resmi. Yang sudah menjadi pasangan, sang lelaki mengetuk pintu asrama perempuan -ragu-ragu dan malu-malu- kemudian membawakan makanan ketika waktu istirahat datang, membuat kaget sang perempuan dan teman-temannya. Senyum merekah dimana-mana. Indah tentu, walau tak semua dari kisah kami semanis itu. Bahkan untuk urusan ketuk-mengetuk pintu asrama perempuan, itu hanya terjadi di waktu dulu, ketika asrama kami belum memiliki barier khusus. Setiap orang cukup mudah berlalu lalang. Berbeda, sekarang ini tak bisa sembarang orang dapat masuk gedung asrama. Apalagi ke kawasan lawan jenis.
Kala gundah meradang, tulisan bercerita. Banyak pula yang menerjemahkannya dengan nada-nada dan suara. Beberapa dengan karya-karya memekakkan mata. Tentang cinta, tentang cita, tentang hidup dan maknanya.
Gap terjadi, sewajarnya seleksi alam terhadap pribadi. Yang islami, berteman dekat dengan yang islami lagi. Yang senang belajar, berteman dengan anak lain yang rajin lagi. Dan aku? Berteman dekat dengan orang-orang yang dengan segala kelebihannya, berlapangdada pada segala kekuranganku. Mereka yang sejak awal Allah kadokan, ditempatkan dalam satu kamar asrama. Orang-orang murni yang menularkan kemurniannya padaku, walau nyatanya itu tidak selalu tercermin pada kehidupan sekarangku. Terlalu batu.
Tak lupa, sahabat-sahabat dekat yang menyayangiku tulus, yang bahkan sampai lulus terlewati jauh, segala bentuk support senantiasa mereka bingkiskan, indah. Kado Allah di akhir masa-masa SMA.
Perselisihan diselesaikan dengan pembicaraan, walau kadang jiwa berontak dan rasa sakit hati yang berlebih menunda kami dari perdamaian. Namun pada akhirnya, tradisi rutin bermaafan seluruh warga sekolah sebelum libur ramadhan menguras air mata kami, semuanya termaafkan.. sungguh ikhlas. Salah satu moment valuable di SMAku.
Aku ingat kata-kata salah seorang teman "Sekolah disini tuh, bikin kita tua sebelum waktunya.." Benar juga, pikirku. Walau kini telah tersadarkan, bahwa tua sebelum waktunya itulah pembentuk sejati jiwa murid-murid. Makna segala dalam hidup yang lebih terasa, bukan hanya sekadar makna kebebasan dan dunia tak terlupakan khas kata-kata anak SMA pada umumnya. Alhamdulillah wasyukurillah, untuk SMAku. Semoga benih prinsip islami, jiwa idealis yang setia pada kebenaran selalu tumbuh menaungi. Semoga Allah senantiasa melindungi.
Guru-guruku, 10-3, 11 IPA 1, 12 IPA 3, teman-teman MPK dan Osis masa jihad 2011-2012, sahabat satu asrama -yang diteruskan menjadi sahabat satu kost, sahabat kelas, kemudian.. Kau. Kau. Kakak-kakak, dan adik-adik yang turut memulas kanvas hidupnya seorang Ireneu. Juga, bibi dan mamang satu Al-Muttaqin...
Terimakasih banyak..
Iren loves you. Insya Allah, Allah loves you more.Posted by Ireneu Lestari at 7/18/2014 08:03:00 PM | Labels: Diary, Selamanya-Sahabat | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |


